The Road Not Taken, tentang hidup dengan mimpi dan kepercayaan

Ketika sedang melakukan hiking dengan seorang teman, kami bertemu dengan sebuah jalan yang bercabang dua, jalan pertama terlihat banyak dilalui dan jalan yang kedua terlihat jarang dilalui orang. Dengan rasa percaya diri yang tinggi saya memutuskan untuk mengambil jalan kedua yang jarang dilalui orang, dan akhirnya saya tahu kenapa jalan itu jarang dilalui, pertama licin dan yang kedua kemiringan kira-kira 70 derajat.

Kejadian tersebut mengingatkan saya akan puisi “The Road Not Taken” nya Robert Frost yang berakhiran dengan “Two roads diverged in a wood, and I— I took the one less traveled by, And that has made all the difference.”, Sedikit bernostalgia saya memikirkan hal yang terjadi kalau saya memilih jalan yang satu lagi, jalan yang tidak pernah saya ambil. Apakah akan ada perbedaan yang terjadi? Ya, pertama teman saya tidak akan kecapean dan kedua saya akan gagal menghadirkan kenangan mendaki gunung yang akan dia kenang sampai sekarang. Continue reading

Aku Hanya Ingin Mengenggam Tanganmu


*Sumber : deviantart

Saya menulis surat ini sekitar tanggal 4 April 2016 kemarin, surat ini adalah seperti ungkapan saya tentang perasaan saya kepada seorang perempuan yang sudah saya sukai sejak pertama kali saya memandangi-nya.
Untuk perempuan yang mempunyai setitik warna coklat di mata gelapnya,

Pernahkah dirimu melihat sebuah angsa berenang di sebuah danau kecil penuh kehangatan, dia bermahkotakan kebanggaannya sendiri sebagai angsa, diatas air yang cerah ia terus berenang dan sesekali ditemani seberkas cahaya yang timbul dari sang mentari. Angsa itu perlahan mengembangkan sayapnya seraya menyerukan “Aku makhluk yang bebas”, tapi percayakah dirimu akan kebebasan sang angsa padahal dia hanya sendiri dalam danau itu. Bukankah kebebasan seperti itu menakutkan? Continue reading

Seorang Intelektual

Kaum Intelektual cenderung memiliki kebutuhan informasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kaum lainnya. Sehingga nya orang Intelektual lebih banyak memiliki ide dan lebih banyak mengungkapkan informasi serta sering menyampaikan pendapatnya di depan khalayak umum. Hal ini bukan lah kewajiban bagi orang Intelektual tapi lebih kepada kebutuhan yang sangat mempengaruhi hidupnya.

Seorang Intelektual dalam menyampaikan ide dan informasi haruslah dengan suatu pemikiran bebas dan terbuka karna memberi batasan pada pemikiran hanya akan mempersempit khasanah ide dan keilmuan seorang Intelektual tersebut. Dalam hal ini, saya tidak setuju dengan pendapat dosen saya yang mengatakan bahwa “Berpemikiran bebas akan menjerumuskan seorang muslim ke jurang yang dalam dan ini sangat berbahaya”, di satu sisi saya sebenarnya membenarkan pendapat beliau karna memang benar kecendrungan berpemikiran bebas akan menjerumuskan muslim kepada jurang kesesatan tapi jikalau kita mempunyai pemahaman yang kuat dan dasar agama yang bagus, bagi saya hal ini tidaklah berbahaya.

Musik Yang Mempesonakan

“Thinking Out Loud – Ed Sheeran” adalah bentuk musik yang saya sukai, saya bukan hanya kagum dengan alunan musiknya yang menghentakkan syahdu tapi juga akan keanggunan Music Video nya, saya kagum terhadap gerakan-gerakan halus yang sang perempuan lakukan. Gerakan yang bak sebuah alunan seorang perempuan perkasa yang halus namun bertenaga, sangat indah seperti lukisan Ballerina Edgar Degas. Musik nya yang melow terasa sangat menyatu dengan MV nya, saya tidak tahu mengapa saya menyukai musik ini tapi saya merasa ini lah sebuah bentuk kesempurnaan akan Cinta dan percintaan yang tergambarkan dalam musik nya. Betapa syahdu nya pertemuan dua hati dan betapa misterius nya seseorang bisa merasakan jatuh cinta serta betapa sangat mengharapnya seorang manusia menemukan cinta di tempat yang tepat.

Sungguh menjadi sebuah ketertarikan sendiri saya mendengar musik nya, betapa saya menyadari bahwa kualitas seniman dan musisi barat memang sangat luar biasa dimana mereka dapat memadukan suasana hati atas cinta menjadi sebuah lirik lagu yang dipadukan dengan musik yang unik dan menarik.

Saya sering mendengar lantunan “Thinking Out Loud” setiap hari dan betapa saya menyadari bahwa saya sering kali megalami jatuh cinta dengan jalan yang sangat misterius, terkadang saya jatuh cinta karna melihat senyum seseorang dan terkadang saya bisa jatuh cinta hanya dengan melihat mata seseorang. Saya menyadari perasaan di umur saya yang sekarang ini seperti tidaklah benar tapi betapa saya meyakinkan diri bahwa ini semua salah begitu pula jiwa saya memberontak.

Orang yang pertama kucintai dengan hati adalah kakak dari sahabat sendiri, seorang berwajah puitis yang menggambarkan tetesan embun pagi yang syahdu, matanya adalah mata terindah yang pernah saya lihat serta senyumnya adalah penggambaran paling otentik dari kelembutan fajar dan mentari pagi. Orang yang saya cintai setelah dia adalah representasi dari sifat fisik dan nurani nya.

ah, saya benar-benar sedang demam…